Senin, 04 Januari 2010

100 TOKOH BERPENGARUH DI DUNIA

oleh Michael H. Hart

Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.



Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.

Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.

Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.

Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.

Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.

Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.

Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.

Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.

Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.

Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.

Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.

Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.

Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.

Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan

Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.

Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.




--------------------------------------------------------------------------------
Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat

Baca Selengkapnya......

Minggu, 03 Januari 2010

MENGEMBANGKAN PERILAKU YANG SHALEH

Setiap orang Islam dituntut untuk selalu berusaha membangun perilaku-perilaku yang yang shaleh dalam kehidupannya sebab dengan memiliki perilaku-perilaku yang shaleh ia akan memperoleh jaminan kehidupan yang baik dunia dan di akherat. Allah berfirman yang artinya:
"Barangsiapa yang berbuat amal shaleh dari kalangan laki-laki maupun perempuan sementara ia beriman Kepada Allah, pastilah akan Kami berikan padanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri mereka balasan dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka perbuat"


Hanya saja untuk mewujudkan perilaku-perilaku yang shaleh diperlukan adanya perjuangan yang gigih dan penuh kesabaran melalui pelaksanaan ibadah secara tekun dan berkelanjutan dan dengan cara menjalankan praktek-praktek ketaatan kepada Allah Swt.. Perjalanan orang Islam menuju kebaikan dan amal shaleh selalu dihadang oleh hawa nafsu yang didukung oleh syetan dari kalangan jin dan manusia yang selalu menggoda agar orang Islam terperosok kembali dalam kesesatan dan dosa yang akan menghalanginya untuk memiliki perilaku-perilaku yang shaleh.

Ibadah : Membangun Perilaku yang shaleh
Salah satu cara untuk membangun perilaku yang shaleh adalah menjalankan ibadah secara teratur dan sesuai dengan tata cara yang ditetapkan oleh Allah Swt.
Secara bahasa ibadah berarti pengambdian atau penghambaan, yakni pengabdian atau peghambaan manusia kepada Allah sebagai wujud ketaatannya kepada Nya. Sedangkan secara syar'i adalah segala aktifitas kebaikan yang dilakukan oleh manusia dalam sebagai wujud ketaatan dan ketundukannya kepada Allah guna memperoleh keridlaan Nya.
Ibadah dalam Islam meliputi seluruh aktifitas kehidupan yang bernilai baik dalam pandangan agama, hanya saja bentuknya terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Ibadah Umum (mahdlah) yakni ibadah yang tata caranya sudah ditentukan secara khusus oleh agama dan tidak ada wewenang sedikitpun bagi manusia untuk melakukan perubahan di dalamnya. Seperti: shalat, puasa, zakat, haji, wudlu, tayammum, dsb.
2. Ibadah umum (ghairu mahdlah) yakni ibadah yang tata caranya tidak ditentukan secara khusus oleh agama. Ibadah jenis ini meliputi segala bentuk kebaikan yang diatur secara umum oleh agama. Seperti bersedekah, mencari ilmu, menolong orang lain, mengajar, dsb.
Dalam ajaran Islam beribadah kepada Allah merupakan satu keharusan bagi manusia sebab itulah tujuan Allah menciptakan manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam Al-Quran:
وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada Ku" (Q.S. al-Dzariyat 56).
Ini bukan berarti bahwa Allah bersikap otoriter dengan memaksa manusia untuk beribadah kepada Nya. Akan tetapi Allah sebagai Pencipta dan Pemilik alam semesta menunjukkan jalan terbaik yang harus dilakukan manusia agar mencapai kebenaran dan kebahagiaan dalam mengarungi kehidupan, sebab pada dasarnya nilai guna dan manfaat ibadah yang dilakukan oleh manusia kembali kepada dirinya sendiri.
Andaikan seluruh makhluk di bumi ini semuanya beribadah kepada Allah, maka tak sedikitpun kejayaan dan kemulyaan Allah meningkat. Demikian juga sebaliknya, andaikan seluruh makhluk di bumi ini tak ada satupun yang beribadah kepada Allah, maka tak sedikitpun kejayaan dan kemulyaan Allah menurun. Manusia sebagai pelaku ibadah adalah yang akan menerima dan merasakan manfaat ibadah yang dilakukan baik untuk kehidupan di dunia maupun kehidupan di akherat.
Oleh karena ibadah merupakan wujud pengambdian dan ketaatan kepada Allah, maka tidak boleh bagi manusia melakukan ibadah sekedar formalitas dan tidak sungguh-sungguh serta tidak memahami maksudnya. Hal ini disebabkan karena ibadah dalam Islam merupakan salah satu media untuk membangun kepribadian manusia menjadi pribadi-pribadi yang baik dan berguna. Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, sembahlah(beribadahlah kepada) Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.(Q.S. Al-Baqarah 21)
Bila kita perhatikan perintah-perintah Allah tentang ibadah baik dalam al-Quran maupun al-Hadis maka akan kita temukan bahwa semua ibadah yang diperintahkan oleh Allah pada akhirnya bermuara pada pembentukan perilaku yang baik (akhlak yang mulia). Shalat misalnya yang merupakan kewajiban sehari-hari memiliki fungsi yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Hal ini disebutkan oleh Allah dalam al-Quran:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
… dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.(Q.S. Al-Ankabut 45)
Demikian juga dengan ibadah-ibadah yang lain semua memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian manusia. Tentang zakat Allah berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(Q.S. Al-Taubah 103)
Dan tentang puasa Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(Q.S. Al-Baqarah 183)
Dengan melihat contoh di atas dapatlah kita ketahui bahwa ada hubungan yang sangat erat antara ibadah dengan pembentukan perilaku shaleh manusia. Ini berarti bahwa kualitas ibadah yang dilakukan oleh manusia akan menentukan perilaku-perilaku shalehnya.

Dosa : Pintu Gerbang Perilaku Negatif
Prbuatan dosa merupakan pintu penghalang terwujudnya perilaku-perilaku yang shaleh. Yang dimaksud dengan perbuatan dosa adalah pelanggaran terhadap batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Pelanggaran itu adakalanya berupa melakukan larangan-larangan Allah dan adakalanya berupa meninggalkan perintah-perintah Allah.
Perilaku manusia dalam melakukan dosa sudah terjadi sejak awal sejarah kehidupan manusia ketika Nabi Adam a.s. dan istrinya Hawa melanggar aturan Allah yang mengakibatkan keduanya harus keluar dari sorga. Kondisi seperti itu terus berlangsung dalam sejarah kehidupan manusia sampai saat ini.
Dalam kehidupan saat ini fenomena tentang perilaku-perilaku dosa semakin banyak terjadi, bahkan banyak sekali perbuatan dosa yang sudah dianggap sebagai "kewajaran" (atau tidak lagi dianggap sebagai dosa) karena sudah menjadi trend kehidupan, gaya hidup, atau budaya populer yang sering dimunculkan di media-media massa.
Di antara perbuatan-perbuatan dosa yang saat ini dianggap sebagai hal yang wajar oleh sebagian orang (khususnya remaja) adalah:
1. Bergandeng tangan antara remaja putra dan remaja putri yang bukan muhrimnya
2. Berpelukan antara remaja putra dan remaja putri yang bukan muhrimnya ketika naik sepeda motor atau lainnya
3. Berciuman antara remaja putra dan remaja putri yang bukan muhrimnya
4. Berkhalwat (berduaan) antara remaja putra dan remaja putri yang bukan muhrimnya
5. Memakai busana yang ketat yang menampakkan lekuk-lekuk tubuh di kalangan remaja putri
6. Memakai busana minim yang menampakkan aurat (seperti paha, punggung, pusar, dan anggota tubuh lainnya) di kalangan remaja putri
7. Minum-minuman keras dengan berbagai jenis dan namanya
8. Melakukan hubungan sex pra nikah
9. Membuat tato di tubuh
10. Laki-laki berpenampilan atau berperilaku seperti wanita atau sebaliknya
11. Meninggalkan shalat
12. Membentak atau berani melawan orang tua
13. Dll.
Karena seringnya perbuatan-perbuatan dosa itu ditampilkan di media-media massa dan dicontohkan oleh para artis dan actor di senetron banyak yang mengira bahwa perbuatan itu merupakan gaya hidup orang modern yang harus selalu ditiru dan diikuti agar tidak dianggap "kuno", "ketinggalan zaman, atau kuper (kurang pergaulan) di tengah-tengah komunitasnya.
Islam sebagai agama yang membawa rahmat untuk alam semesta telah melarang setiap orang muslim untuk melakukan dosa dan bahkan mewajibkan padanya untuk terus berusaha menjauhi perbuatan dosa. Rasulullah Saw. bersabda yang artinya:"Apa saja yang telah aku larang maka jauhilah, dan apa saja yang telah aku perintahkan maka lakukanlah semampu yang dapat kamu lakukan" (H.R. Muslim).
Untuk itu Allah Swt. mengancam kepada siapa saja yang melakukan dosa dengan firman Nya yang artinya:"Barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul Nya dan melanggar batas-batas (aturan-aturan) Nya maka Dia akan memasukkan orang itu ke neraka yang kekal di dalamnya dan ia akan mendapatkan siksa yang pedih (Q.S. al-Nisa'14)
Perbuatan dosa apapun bentuknya sekecil apapun kadarnya akan berdampak negatif bagi kehidupan manusia. Perbuatan dosa menjadi salah satu pintu lahirnya perilakuperilaku yang negative dan menyimpang pada diri manusia.
Ibnu al-Qayyim al-Jauziah menyebutkan beberapa akibat negatif dari perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia, di antaranya:
1. Menghambat perolehan ilmu yang bermanfaat
2. Menghambat perolehan rizki yang baik
3. Menjauhkan hubungan dengan Allah dan dengan manusia
4. Menghilangkan cahaya hati sehingga hati menjadi gelap (tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk)
5. Merendahkan derajat di hadapan Allah dan manusia
6. Memandang remeh kebaikan sehingga enggan melakukan
7. Melemahkan ketaatan kepada Allah sehingga malas beribadah
8. Membuka pintu-pintu dosa yang lain
9. Menjadikan hati selalu gelisah (tidak memiliki ketenangan batin)
10. Dan secara komunal, dosa akan mendatangkan siksa dari Allah.

Meskipun Islam telah memberikan petunjuk yang sangat jelas untuk mengantarkan manusia menuju kebahagiaan di dunia dan akherat dengan cara mengikuti aturan-aturan Allah dan meninggalkan dosa-dosa, akan tetapi kenyataannya masih banyak sekali orang yang melanggar aturan Allah dan terus melakukan dosa.
Semoga Allah membuka hati kita menemukan kebenaran yang hakiki dan menghiasai diri kita dengan perilaku-perilaku yang shaleh agar kita memeprleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Amin


Baca Selengkapnya......

KONFERENSI PERS SE-ABAD MUHAMMADIYAH

BERKIPRAH TAK KENAL LELAH
MENDIDIK DAN MENCERAHKAN BANGSA
MENUJU PERADABAN UTAMA


Pada tanggal 8 Dzulhijjah 1430 H bertepatan dengan 25 November 2009 Muhammadiyah genap 100 tahun atau satu abad dari usia kelahirannya pada 8 Dzulhijjah 1330 H / 18 November 1912 M. Dalam memanfaatkan momentum milad (kelahiran) Muhammadiyah tersebut Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

1. Muhammadiyah mensyukuri usia satu abad sebagai berkah Allah atas pengkhidmatan yang selama ini dilakukan dalam memajukan dan mencerahkan kehidupan bangsa. Muhammadiyah juga menjadikan usia satu abad sebagai momentum penguatan gerakan (revitalisasi) untuk memperbaiki, menyempurnakan, dan mengembangkan seluruh potensi serta infrastruktur gerakan agar mampu berkiprah optimal dan tampil menjadi gerakan Islam yang terbesar/unggul secara kualitatif.

2. Muhammadiyah memasuki perjalanannya seratus tahun ke depan bertekad untuk mengembangkan pembaruan (tajdid) fase kedua. Pada babak baru tersebut Muhammadiyah melakukan transformasi gerakan untuk menawarkan pemikiran-pemikiran alternatif, dinamisasi masyarakat madani yang semakin otonom dan bermoral utama, mengembangkan basis kekuatan ekonomi, penguatan gerakan perempuan, dan reformasi amal usaha yang bertumpu pada sistem organisasi yang modern, progresif, dan mandiri. Dalam kehidupan bangsa akan semakin dikembangkan peran-peran kebangsaan yang memberi sumbangan signifikan dalam transformasi kehidupan bangsa, khususnya dalam merekonstruksi pranata-pranata sosial masyarakat berbasis kebudayaan Indonesia yang modern dan relijius. Dalam dunia kemanusiaan global dikembangkan Islam berwajah damai dan berkemajuan sesuai risalah Islam berwawasan khaira ummah (bangsa yang unggul) dan rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi semesta alam).

3. Muhammadiyah mengharapkan agar segenap anak bangsa, lebih-lebih para pejabat tinggi negara dan elit bangsa memanfaatkan amanat rakyat dengan sepenuh jiwa raga demi terwujudnya Indonesia sebagai bangsa dan negara yang maju, adil, makmur, damai, sejahtera, bermartabat, dan berdaulat sebagaimana cita-cita nasional. Belajarlah kepada para pendiri bangsa tentang jiwa kearifan, keberanian, kecerdasan, pengabdian, pengorbanan, dan kenegarawanan sehingga mampu menjadi teladan dalam mengurus bangsa/negara dengan sebaik-baiknya. Jauhkan diri dari sikap angkuh, kebal kritik, dan ajimumpung dalam menjalankan mandat rakyat.

4. Muhammadiyah memandang penting adanya rekonstruksi visi dan karakter di tubuh bangsa ini demi kelangsungan hidup dan kejayaan masa depan Indonesia. Pemberantasan korupsi hendaknya benar-benar dilakukan dengan tegas, berani, tidak tebang pilih, dan mampu menyeret para koruptor besar. Hukum mesti ditegakkan dengan tegas, sistemik, memenuhi rasa keadilan, serta tidak terjebak pada logika legal-formal yang memberi ruang leluasa bagi para mafia, pejabat korup, makelar kasus, dan para koruptor untuk mempermainkan celah hukum. Politik dan kekuasaan hendaknya peka terhadap denyut nadi dan aspirasi publik, mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas lainnya, tidak menghalalkan segala cara, dan menjauhkan diri dari KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme) yang kini menunjukkan tanda-tanda menguat kembali saat ini.

5. Muhammadiyah mengajak kepada seluruh warga bangsa agar memiliki visi dan karakter yang berbasis kebudayaan Indonesia yang utama. Kembangkan budaya hidup relijius, rukun, damai, dan etos kemajuan untuk tumbuh menjadi bangsa yang unggul dan berperadaban luhur. Hendaknya menjauhkan diri dari segala bentuk kekerasan, sikap hidup permisif dan konsumtif, dan merendahkan mutu. Bangkitkan kemandirian, kecerdasan, kedisplinan, moralitas, kehormatan, dan martabat diri sebagaimana layaknya bangsa yang besar agar mampu hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang berperadaban tinggi. Karena itu diperlukan pilar-pilar civil society yang solid didukung oleh kepemimpinan nasional yang visioner dan berkarakter kuat.


Yogyakarta, 6 Dzulhijjah 1430 H / 23 November 2009 M

Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Ketua Umum Sekretaris Umum



Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A Drs. H. A. Rosyad Sholeh


Baca Selengkapnya......

Jumat, 23 Oktober 2009

Zawahirul Afkar Muhammadiyah


Zhawahir al-Afkar al-Muhammadiyyah Abra Qarn min al-Zaman PDF Cetak Kirim
Social List RssSocial List Bookmarking Widget
Bismillahirrahmanirrahim

Bahwa keberhasilan perjuangan Muhammadiyah yang berjalan hampir satu abad pada hakikatnya merupakan rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang patut disyukuri oleh seluruh warga Persyarikatan. Dengan modal keikhlasan dan kerja keras segenap anggota disertai dukungan masyarakat luas Muhammadiyah tidak kenal lelah melaksanakan misi da’wah dan tajdid dalam memajukan kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan. Gerakan kemajuan tersebut ditunjukkan dalam melakukan pembaruan pemahaman Islam, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, serta berperan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa di negeri ini.Namun disadari pula masih terdapat sejumlah masalah atau tantangan yang harus dihadapi dan memerlukan langkah-langkah strategis dalam usianya yang cukup tua itu. Perjuangan Muhammadiyah yang diwarnai dinamika pasang-surut itu tidak lain untuk mencapai tujuan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya serta dalam rangka menyebarkan misi kerisalahan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin di bumi Allah yang terhampar luas ini.

Karena itu dengan senantiasa mengharapkan ridha dan pertolongan Allah SWT Muhammadiyah dalam usia dan kiprahnya jelang satu abad ini menyampaikan pernyataan pikiran (zhawãhir al-afkãr/statement of mind) sebagai berikut:

A. Komitmen Gerakan

1. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang mengemban misi da’wah dan tajdid, berasas Islam, bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah, dan bertujuan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah sesuai jatidirinya senantiasa istiqamah untuk menunjukkan komitmen yang tinggi dalam memajukan kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan sebagai wujud ikhtiar menyebarluaskan Islam yang bercorak rahmatan lil-‘alamin. Misi kerisalahan dan kerahmatan yang diemban Muhammadiyah tersebut secara nyata diwujudkan melalui berbagai kiprahnya dalam pengembangan amal usaha, program, dan kegiatan yang sebesar-besarnya membawa pada kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini.
2. Muhammadiyah dalam usianya jelang satu abad telah banyak mendirikan taman kana-kanak, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, balai pengobatan, rumah yatim piatu, usaha ekonomi, penerbitan, dan amal usaha lainnya. Muhammadiyah juga membangun masjid, mushalla, melakukan langkah-langkah da’wah dalam berbagai bentuk kegiatan pembinaan umat yang meluas di seluruh pelosok Tanah Air. Muhammadiyah bahkan tak pernah berhenti melakukan peran-peran kebangsaan dan peran-peran kemanusiaannya dalam dinamika nasional dan global. Kiprah Muhammadiyah tersebut menunjukkan bukti nyata kepada masyarakat bahwa misi gerakan Islam yang diembannya bersifat amaliah untuk kemajuan dan pencerahan yang membawa pada kemaslahatan masyarakat yang seluas-luasnya. Peran kesejarahan yang dilakukan Muhammadiyah tersebut berlangsung dalam dinamika yang beragam. Pada masa penjajahan sejak berdirinya tahun 1330 H/1912 M., Muhammadiyah mengalami cengkeraman politik kolonial sebagaimana halnya dialami oleh seluruh masyarakat Indonesia saat itu, tetapi Muhammadiyah tetap berbuat tak kenal lelah untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Setelah Indonesia merdeka pada masa awal dan era Orde Lama Muhammadiyah mengalami berbagai situasi sulit akibat konflik politik nasional yang kompleks, namun Muhammadiyah tetap berkiprah dalam da’wah dan kegiatan kemasyarakatan. Pada era Orde Baru di bawah rezim kekuasaan yang melakukan depolitisasi (pengebirian politik), deideologisasi (pengebirian ideologi), dan kebijakan politik yang otoriter, Muhammadiyah juga terus berjuang mengembangkan amal usaha dan aktivitas da’wah Islam. Sedangkan pada masa reformasi, Muhammadiyah memanfaatkan peluang kondisi nasional yang terbuka itu dengan melakukan revitalisasi dan peningkatan kualitas amal usaha serta aktivitas da’wahnya. Melalui kiprahnya dalam sejarah yang panjang itu Muhammadiyah telah diterima oleh masyarakat luas baik di tingkat lokal, nasional, dan internasional sebagai salah satu pilar kekuatan Islam yang memberi sumbangan berharga bagi kemajuan peradaban umat manusia.
3. Kiprah dan langkah Muhammadiyah yang penuh dinamika itu masih dirasakan belum mencapai puncak keberhasilan dalam mencapai tujuan dan cita-citanya, sehingga Muhammadiyah semakin dituntut untuk meneguhkan dan merevitalisasi gerakannya ke seluruh lapangan kehidupan. Karena itu Muhammadiyah akan melaksanakan tajdid (pembaruan) dalam gerakannya sehingga di era kehidupan modern abad ke-21 yang kompleks ini sesuai dengan Keyakinan dan Kepribadiannya dapat tampil sebagai pilar kekuatan gerakan pencerahan peradaban di berbagai lingkungan kehidupan.

B. Pandangan Keagamaan

1. Muhammadiyah dalam melakukan kiprahnya di berbagai bidang kehidupan untuk kemajuan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan dilandasi oleh keyakinan dan pemahaman keagamaan bahwa Islam sebagai ajaran yang membawa misi kebenaran Ilahiah harus didakwahkan sehingga menjadi rahmatan lil-‘alamin di muka bumi ini. Bahwa Islam sebagai Wahyu Allah yang dibawa para Rasul hingga Rasul akhir zaman Muhammad Saw., adalah ajaran yang mengandung hidayah, penyerahan diri, rahmat, kemaslahatan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup umat manusia di dunia dan akhirat. Keyakinan dan paham Islam yang fundamental itu diaktualisasikan oleh Muhammadiyah dalam bentuk gerakan Islam yang menjalankan misi dakwah dan tajdid untuk kemaslahatan hidup seluruh umat manusia.
2. Misi da’wah Muhammadiyah yang mendasar itu merupakan perwujudan dari semangat awal Persyarikatan ini sejak didirikannya yang dijiwai oleh pesan Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran 104, yang artinya: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Kewajiban dan panggilan da’wah yang luhur itu menjadi komitmen utama Muhammadiyah sebagai ikhtiar untuk menjadi kekuatan Khaira Ummah sekaligus dalam membangun masyarakat Islam yang ideal seperti itu sebagaimana pesan Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran ayat 110, yang artinya: ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”. Dengan merujuk pada Firman Allah dalam Al-Quran Surat Ali Imran 104 dan 110, Muhammadiyah menyebarluaskan ajaran Islam yang komprehensif dan multiaspek itu melalui da’wah untuk mengajak pada kebaikan (Islam), al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar (mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar), sehingga umat manusia memperoleh keberuntungan lahir dan batin dalam kehidupan ini. Da’wah yang demikian mengandung makna bahwa Islam sebagai ajaran selalu bersifat tranformasional; yakni dakwah yang membawa perubahan yang bersifat kemajuan, kebaikan, kebenaran, keadilan, dan nilai-nilai keutamaan lainnya untuk kemaslahatan serta keselamatan hidup umat manusia tanpa membeda-bedakan ras, suku, golongan, agama, dan lain-lain.
3. Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dikenal sebagai pelopor gerakan tajdid (pembaruan). Tajdid yang dilakukan pendiri Muhammadiyah itu bersifat pemurnian (purifikasi) dan perubahan ke arah kemajuan (dinamisasi), yang semuanya berpijak pada pemahaman tentang Islam yang kokoh dan luas. Dengan pandangan Islam yang demikian Kyai Dahlan tidak hanya berhasil melakukan pembinaan yang kokoh dalam akidah, ibadah, dan akhlak kaum muslimin, tetapi sekaligus melakukan pembaruan dalam amaliah mu’amalat dunyawiyah sehingga Islam menjadi agama yang menyebarkan kemajuan. Semangat tajdid Muhammadiyah tersebut didorong antara lain oleh Sabda Nabi Muhammad s.a.w., yang artinya: ”Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat manusia pada setiap kurun seratus tahun orang yang memperbarui ajaran agamanya” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah). Karena itu melalui Muhammadiyah telah diletakkan suatu pandangan keagamaan yang tetap kokoh dalam bangunan keimanan yang berlandaskan pada Al-Quran dan As-Sunnah sekaligus mengemban tajdid yang mampu membebaskan manusia dari keterbelakangan menuju kehidupan yang berkemajuan dan berkeadaban.
4. Dalam pandangan Muhammadiyah, bahwa masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang menjadi tujuan gerakan merupakan wujud aktualisasi ajaran Islam dalam struktur kehidupan kolektif manusia yang memiliki corak masyarakat tengahan (ummatan wasatha) yang berkemajuan baik dalam wujud sistem nilai sosial-budaya, sistem sosial, dan lingkungan fisik yang dibangunnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang memiliki keseimbangan antara kehidupan lahiriah dan batiniah, rasionalitas dan spiritualitas, aqidah dan muamalat, individual dan sosial, duniawi dan ukhrawi, sekaligus menampilkan corak masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai keadilan, kejujuran, kesejahteraan, kerjasama, kerjakeras, kedisiplinan, dan keunggulan dalam segala lapangan kehidupan. Dalam menghadapi dinamika kehidupan, masyarakat Islam semacam itu selalu bersedia bekerjasama dan berlomba-lomba dalam serba kebaikan di tengah persaingan pasar-bebas di segala lapangan kehidupan dalam semangat ”berjuang menghadapi tantangan” (al-jihad li al-muwajjahat) lebih dari sekadar ”berjuang melawan musuh” (al-jihad li al-mu’aradhah). Masyarakat Islam yang dicita-citakan Muhammadiyah memiliki kesamaan karakter dengan masyarakat madani, yaitu masyarakat kewargaan (civil-society) yang memiliki keyakinan yang dijiwai nilai-nilai Ilahiah, demokratis, berkeadilan, otonom, berkemajuan, dan berakhlak-mulia (al-akhlaq al-karimah). Masyarakat Islam yang semacam itu berperan sebagai syuhada ‘ala al-nas di tengah berbagai pergumulan hidup masyarakat dunia. Karena itu, masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang bercorak ”madaniyah” tersebut senantiasa menjadi masyarakat yang serba unggul atau utama (khaira ummah) dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Keunggulan kualitas tersebut ditunjukkan oleh kemampuan penguasaan atas nilai-nilai dasar dan kemajuan dalam kebudayaan dan peradaban umat manusia, yaitu nilai-nilai ruhani (spiritualitas), nilai-nilai pengetahuan (ilmu pengetahuan dan teknologi), nilai-nilai materi (ekonomi), nilai-nilai kekuasaan (politik), nilai-nilai keindahan (kesenian), nilai-nilai normatif berperilaku (hukum), dan nilai-nilai kemasyarakatan (budaya) yang lebih berkualitas. Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya bahkan senantiasa memiliki kepedulian tinggi terhadap kelangsungan ekologis (lingkungan hidup) dan kualitas martabat hidup manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam relasi-relasi yang menjunjungtinggi kemaslahatan, keadilan, dan serba kebajikan hidup. Masyarakat Islam yang demikian juga senantiasa menjauhkan diri dari perilaku yang membawa pada kerusakan (fasad fi al-ardh), kedhaliman, dan hal-hal lain yang bersifat menghancurkan kehidupan.


C. Pandangan tentang Kehidupan

1. Muhammadiyah memandang bahwa era kehidupan umat manusia saat ini berada dalam suasana penuh paradoks. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat luar biasa dibarengi dengan berbagai dampak buruk seperti lingkungan hidup yang tercemar (polusi) dan mengalami eksploitasi besar-besaran yang tak terkendali, berkembangnya nalar-instrumental yang memperlemah naluri-naluri alami manusia, lebih jauh lagi melahirkan sekularisasi kehidupan yang menyebabkan manusia kehilangan keseimbangan-keseimbangan hidup yang bersifat religius. Kemajuan kehidupan modern yang melahirkan antitesis post-modern juga diwarnai oleh kecenderungan yang bersifat serba-bebas (supra-liberal), serba-boleh (anarkhis), dan serba-menapikan nilai (nihilisme), sehingga memberi peluang semakin terbuka bagi kemungkinan anti-agama (agnotisme) dan anti-Tuhan (atheisme) secara sistematis. Demokrasi, kesadaran akan hak asasi manusia, dan emansipasi perempuan juga telah melahirkan corak kehidupan yang lebih egaliter dan berkeadilan secara meluas, tetapi juga membawa implikasi pada kebebasan yang melampau batas dan egoisme yang serba liberal, yang jika tanpa bingkai moral dan spiritual yang kokoh dapat merusak hubungan-hubungan manusia yang harmoni.
2. Dalam memasuki babak baru globalisasi, selain melahirkan pola hubungan positif antarbangsa dan antarnegara yang serba melintasi, pada saat yang sama melahirkan hal-hal negatif dalam kehidupan umat manusia sedunia. Di era global ini masyarakat memiliki kecenderungan penghambaan terhadap egoisme (ta’bid al-nafs), penghambaan terhadap materi (ta’bid al-mawãd), penghambaan terhadap nafsu seksual (ta’bid al-syahawãt), dan penghambaan terhadap kekuasaan (ta’bid al-siyasiyyah) yang menggeser nilai-nilai fitri (otentik) manusia dalam bertauhid (keimanan terhadap Allah SWT) dan hidup dalam kebaikan di dunia dan akhirat. Globalisasi juga telah mendorong ekstrimisme baru berupa lahirnya fanatisma primordial agama, etnik, dan kedaerahan yang bersifat lokal sehingga membangun sekat-sekat baru dalam kehidupan. Perkembangan global pasca perang-dingin (keruntuhan Komunisme) juga ditandai dengan pesatnya pengaruh Neo-liberalisme yang semakin mengokohkan dominasi Kapitalisme yang lebih memihak kekuatan-kekuatan berjuasi sekaligus kian meminggirkan kelompok-kelompok masyarakat yang lemah (dhu’afã) dan tertindas (mustadh’afin), sehingga melahirkan ketidak-adilan global yang baru. Namun globalisasi dan alam kehidupan modern yang serba maju saat ini juga dapat dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan Islam seperti Muhammadiyah untuk memperluas solidaritas umat manusia sejagad baik sesama umat Islam (ukhuwah islamiyyah) maupun dengan kelompok lain (‘alãqah insãniyyah), yang lebih manusiawi dan berkeadaban tinggi.
3. Karena itu Muhammadiyah mengajak seluruh kekuatan masyarakat, bangsa, dan dunia untuk semakin berperan aktif dalam melakukan ikhtiar-ikhtiar pencerahan di berbagai lapangan dan lini kehidupan sehingga kebudayaan umat manusia di alaf baru ini menuju pada peradaban yang berkemajuan sekaligus bermoral tinggi.


D. Tanggungjawab Kebangsaan dan Kemanusiaan

1. Muhammadiyah memandang bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah berada dalam suasana transisi yang penuh pertaruhan. Bahwa keberhasilan atau kegagalan dalam menyelesaikan krisis multiwajah akan menentukan nasib perjalanan bangsa ke depan. Masalah korupsi, kerusakan moral dan spiritual, pragmatisme perilaku politik, kemiskinan, pengangguran, konflik sosial, separatisme, kerusakan lingkungan, dan masalah-masalah nasional lainnya jika tidak mampu diselesaikan secara sungguh-sungguh, sistematik, dan fundamental akan semakin memperparah krisis nasional. Wabah masalah tersebut menjadi beban nasional yang semakin berat dengan timbulnya berbagai musibah dan bencana nasional seperti terjadi di Aceh, Nias, dan daerah-daerah lain yang memperlemah dayatahan bangsa. Krisis dan masalah tersebut bahkan akan semakin membebani tubuh bangsa ini jika dipertautkan dengan kondisi sumberdaya manusia, ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur nasional maupun lokal yang jauh tertinggal dari kemajuan yang dicapai bangsa lain.
2. Bangsa Indonesia juga tengah berada dalam pertaruhan ketika berhadapan dengan perkembangan dunia yang berada dalam cengkeraman globalisasi, politik global, dan berbagai tarik-menarik kepentingan internasional yang diwarnai hegemoni dan ketidakadilan di berbagai bidang kehidupan. Indonesia bahkan menjadi lahan paling subur dan tempat pembuangan limbah sangat mudah dari globalisasi dan pasar bebas yang berwatak neo-liberal. Jika tidak memiliki daya adaptasi, filter, dan integritas kepribadian yang kookoh maka bangsa ini juga akan terombang-ambing dalam hegemoni dan liberalisasi politik global yang penuh konflik dan kepentingan. Pada saat yang sama bangsa ini juga tengah berhadapan dengan relasi-relasi baru yang dibawa oleh multikulturalisme yang memerlukan orientasi kebudayaan dan tatanan sosial baru yang kokoh.
3. Dalam menghadapi masalah dan tantangan internal maupun eksternal itu bangsa Indonesia memerlukan mobilisasi seluruh potensi dan kemampuan baik berupa sumberdaya manusia, sumberdaya alam, modal sosial-kultural, dan berbagai dayadukung nasional yang kuat dan dikelola dengan sebaik-baiknya. Dalam kondisi yang sangat penuh pertaruhan dan sarat tantangan tersebut maka sangat diperlukan kepemimpinan yang handal dan visioner baik yang didukung kemampuan masyarakat yang mandiri baik di ingkat nasional maupun lokal agar berbagai masalah, tantangn, dan potensi bangsa ini mampu dihadapi serta dikelola dengan sebaik-baiknya.
4. Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim juga tidak lepas dari perkembangan yang dihadapi saudara-saudaranya di dunia Islam. Mayoritas dunia Islam selain dililit oleh masalah-masalah nasional masing-masing, pada saat yang sama berada dalam dominasi dan hegemoni politik Barat yang banyak merugikan kepentingan-kepentingan dunia Islam. Sementara antar dunia Islam sendiri selain tidak terdapat persatuan yang kokoh, juga masih diwarnai oleh persaingan dan konflik yang sulit dipertemukan, sehingga semakin memperlemah posisi umat Islam dalam percaturan internasional. Kendati begitu, masih terdapat secercah harapan ketika Islam mulai berkembang di neger-negeri Barat dan terjadi perkembangan alam pikiran baru yang membawa misi perdamaian, kemajuan, dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.


E. Agenda dan Langkah Ke Depan

1. Dalam menghadapi masalah bangsa, umat Islam, dan umat manusia sedunia yang bersifat kompleks dan krusial sebagaimana digambarkan itu Muhammadiyah sebagai salah satu kekuatan nasional akan terus memainkan peranan sosial-keagamaannya sebagaimana selama ini dilakukan dalam perjalanan sejarahnya. Usia jelang satu abad telah menempa kematangan Muhammadiyah untuk tidak kenal lelah dalam berkiprah menjalankan misi da’wah dan tajdid untuk kemajuan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan. Jika selama ini Muhammadiyah telah menorehkan kepeloporan dalam pemurnian dan pembaruan pemikrian Islam, pengembangan pendidikan Islam, pelayanan kesehatan dan kesejahteraan, serta dalam pembinaan kecerdasan dan kemajuan masyarakat; maka pada usianya jelang satu abad ini Muhammadiyah selain melakukan revitalisasi gerakannya juga berikhtiar untuk menjalankan peran-peran baru yang dipandang lebih baik dan lebih bermasalahat bagi kemajuan peradaban.
2. Peran-peran baru sebagai wujud aktualisasi gerakan da’wah dan tajdid yang dapat dikembangkan Muhammadiyah antara lain dalam menjalankan peran politik kebangsaan guna mewujudkan reformasi nasional dan mengawal perjalanan bangsa tanpa terjebak pada politik-praktik (politik kepartaian) yang bersifat jangka pendek dan sarat konflik kepentingan. Dengan bingkai Khittah Ujung Pandang tahun 1971 dan Khittah Denpasar tahun 2002, Muhammadiyah secara proaktif menjalankan peran dalam pemberanrasan korupsi, penegakan supremasi hukum, memasyarakatkan etika berpolitik, pengembangan sumberdaya manusia, penyelamatan lingkungan hidup dan sumberdaya alam, memperkokoh integrasi nasional, membangun karakter dan moral bangsa, serta peran-peran kebangsaan lainnya yang bersifat pencerahan. Muhammadiyah juga akan terus menjalankan peran dan langkah-langkah sistematik dalam mengembangkan kehidupan masyarakat madani (civil society) melalui aksi-aksi da’wah kultural yang mengrah pada pembentukan masyarakat Indonesia yang demokratis, otonom, berkeadilan, dan berakhlak mulia.
3. Dalam pergaulan internasional dan dunia Islam, Muhammadiyah juga terpanggil untuk menjalankan peran global dalam membangun tatanan dunia yang lebih damai, adil, maju, dan berkeadaban. Muhammadiyah menyadari pengaruh kuat globalisasi dan ekspansi neo-liberal yang sangat mencengkeram perkembangan masyarakat dunia saat ini. Dalam perkembangan dunia yang sarat permasalahan dan tantangan yang kompleks di abad ke-21 itu Muhammadiyah dituntut untuk terus aktif memainkan peran kerisalahannya agar umat manusia sedunia tidak terseret pada kehancuran oleh keganasan globalisasi dan neo-liberal, pada saat yang sama dapat diarahkan menuju pada keselamatan hidup yang lebih hakiki serta memiliki peradaban yang lebih maju dan berperadaban mulia.
4. Khusus bagi umat Islam baik di tingkat lokal, naional, maupun global Muhammadiyah dituntut untuk terus maminkan peran da’wah dan tajdid secara lebih baik sehingga kaum muslimin menjadi kekuatan penting dan menentukan dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban di era modern yang penuh tantangan ini. Era kebangkitan Islam harus terus digerakkan ke arah kemajuan secara signifikan dalam berbagai bidang kehidupan umat Islam. Umat Islam harus tumbuh menjadi khaira ummah yang memiliki martabat tinggi di hadapan komunitas masyarakat lain di tingkat lokal, nasional, dan global. Di tengah dinamika umat Islam yang semacam itu Muhammadiyah harus tetap istiqamah dan terus melakukan pembaruan dalam menjalankan dan mewujudkan misi Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin di bumi Allah yang tercinta ini.

Demikian Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad sebagai ungkapan keyakinan, komitmen, pemikiran, sikap, dan ikhtiar mengenai kehadiran dirinya sebagai Gerakan Islam yang mengemban misi da’wah dan tajdid dalam memasuki usianya hampir seratus tahun. Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad tersebut menjadi bingkai dan arah bagi segenap anggota dan pimpinan Persyarikatan baik dalam menghadapi perkembangan kehidupan maupun dalam melaksanakan usaha-usaha menuju tercapainya tujuan Muhammadiyah yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Akhirnya, dengan senantiasa memohon ridha dan karunia Allah SWT., semoga kiprah Muhammadiyah di pentas sejarah ini membawa kemasalahatn bagi hidup umat manusia dan menjadi rahmat bagi alam semesta. Nashr min Allah wa fath qarib.

Baca Selengkapnya......

Senin, 28 September 2009


Baca Ikrar...



1)Setia menjalankan ibadah dengan ikhlas karena Allah semata.
2)Mengabdi kepada Allah, bangsa dan negara serta membela keadilan dan kebenaran.
3)Menjauhkan diri dari segala perangai dan tingkah laku yang tercela.
4)Mencari perdamaian dan kasih sayang serta menjauhi perselisihan dan permusuhan.
5)Patuh dan taat pada peraturan-peraturan serta percaya kepada kebijaksanaan pimpinan.
6)Dengan iman dan akhlaq saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlaq saya menjadi lemah.

(By: PuaN)

Baca Selengkapnya......

MaKNa LaMBanG TaPaK SuCi

Berdasarkan Anggaran Rumah Tangga ( ART ) TAPAK SUCI BAB IX Pasal 30, telah resmi ditetapkan bahwa Lambang TAPAK SUCI mempunyai arti sebagai berikut :


Bentuk Bulat : Bertekad bulat
Berdasar Biru : Keagungan
Bertepi Hitam : Kekal dan Abadi melambangkan sifat ALLAH SWT
Bunga Mawar : Keharuman
Warna Merah : Keberanian
Daun Kelopak Hijau : Kesempurnaan
Bunga Melati Putih : Kesucian
Jumlah Sebelas : Rukun Islam dan Rukun Iman
Tangan Kanan Putih : Keutamaan
Terbuka : Kejujuran
Berjari Rapat : Keeratan
Ibu Jari Tertekuk : Kerendahan Hati
Sinar Matahari Kuning : Putera Muhammadiyah

Keseluruhan lambang tersimpul dengan nama TAPAK SUCI yang mengandung arti bahwa : TAPAK SUCI bertekad bulat mengagungkan asma ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala yang bersifat kekal dan abadi. TAPAK SUCI dengan keberanian menyerbakkan keharuman dengan kesempurnaan, dan TAPAK SUCI dengan kesucian menunaikan Rukun Islam dan Rukun Iman, serta mengutamakan keeratan persaudaraan, kejujuran dan kerendahan hati.

Dan (tambahan) lambang itu berada dalam pancaran sinar matahari, bermakna TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH ( TAPAK SUCI adalah Organisasi Otonom Persyarikatan Muhammadiyah ).
(by Puan)

Baca Selengkapnya......

10 KomPonEn WajiB BaGi PeSiLaT TaPaK SuCi

1.Kekuatan (strength),
2.Daya tahan (endurance),
3.Daya ledak (muscular power),
4.Kecepatan (speed),
5.Daya Lentur (flexibility),
6.Kelincahan (agility),
7.Koordinasi (coordination),
8.Keseimbangan (balance),
9.Ketepatan (accuracy), dan
10.Reaksi (reaction).


Komponen-komponen kondisi fisik sebagimana yang disebutkan diatas memiliki arti sebagai berikut :
1.Kekuatan (strength), adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. Pembinaan untuk mendapatkan kekuatan ini misalnya dengan cara dorong-mendorong atau tarik-menarik berpasangan. Push up, sit up, mengangkat beban yang tidak terlalu berat dan lain sebagainya.
2.Daya tahan (endurance), dalam hal ini dikenal dua macam daya tahan, yaitu :
a.Daya tahan umum (general endurance) adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan sistem jantung, paru-paru dan peredaran darahnya secara efektif dan efisien untuk menjalankan kerja secara terus-menerus yang melibatkan kontraksi sejumlah otot dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama.
b.Daya tahan otot (local endurance) adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan ototnya untuk berkontraksi secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama dengan beban tertentu.

Melakukan jalan cepat 2.5 km atau lari selama 12 menit, melakukan lontaran-lontaran jurus dasar dalam waktu lebih dari 4 menit terus menerus dan lain sebagainya akan mendapatkan kemampuan daya tahan (endurance) ini.

3.Daya ledak (muscular power), adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya. Dalam hal ini, dapat dinyatakan bahwa : daya ledak (power) = kekuatan (force) x kecepatan (velocity). Daya ledak dapat terjadi saat seorang pesilat melompat tinggi, menendang, serta gerak lain yang bersifat explosive. Cara pembinaannya bisa dengan melalui melompat, meloncat, menendang, memukul, mengibas, mengangkat atau dengan cara skeeping rope, squat jump, dan lain sebagainya.

4.Kecepatan (speed), adalah kemampuan seseorang untuk melakukan gerakan kesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu sesingkat-singkatnya, seperti katak melempar tubuh atau ikan terbang kiri-kanan secara beruntun, pengkalan harimau lebih dari satu putaran dan lain-lain. Dalam hal ini, ada kecepatan gerak dan kecepatan explosive. Untuk pembinaan speed ini bisa dilakukan dengan lari cepat berjarak 30 m secara berulang dengan ditentukan garis start dan finishnya serta harus diperhatikan waktu istirahat selang diantara ulangan berlari, dan lain sebagainya.

5.Daya Lentur (flexibility), adalah efektivitas seseorang dalam penyesuaian diri untuk segala aktivitas dengan penguluran tubuh yang luas. Hal ini akan sangat mudah ditandai dengan tingkat flexibilitas persendian pada seluruh tubuh. Melakukan stretching . penguluran / perenggangan adalah cara untuk mendapakan daya lentur.






- 3 -

6.Kelincahan (agility), adalah kemampuan seseorang untuk mengubah posisi di arena tertentu. Seseorang yang mampu mengubah posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti kelincahannya cukup baik. Adapun cara untuk mendapatkan kelincahan ialah dengan melakukan Doging Run; dengan cara berlari berbelo-belok melalui rintangan, dua kali ulangan pergi – pulang dalam waktu secepat-cepatnya, atau berlari pulang – pergi pada batas yang ditentukan dengan cara membungkuk mengambil benda pada garis bartas, kemudian berbalik berlari meletakkan benda tersebut pada garis batas yang lainnya.

7.Koordinasi (coordination), adalah kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacam-macam gerakan yang berbeda kedalam pola gerakan tunggal secara efektif. Misalnya seorang pesilat yang melakukan tangkisan dengan diikuti hindaran yang kemudian berbalik menyerang dengan menggunakan pukulan dan tendangan dalam berbagai bentuk secara benar. Dalam hal ini, pesilat telah mampu mengkoordinasikan antara tangkisan, hindaran, pukulan dan tendangan. Untuk mendapatkan kemampuan koordinasi ini bisa dengan berpasangan ganda yang sudah terencana dan dilakukan dengan cepat dan tepat.

8.Keseimbangan (balance), adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan organ-organ syaraf otot, seperti pada ‘hand stand’ atau dalam mencapai keseimbangan sewaktu seseorang sedang berjalan kemudian tergelincir. Dengan melakukan gerak-gerak dengan bertumpu pada satu kaki atau sambil mengangkat tumit tinggi-tinggi, meniti dalam ketinggian tertentu atau berjalan diatas papan yang bergerak-gerak akan dapat menumbuhkan kemampuan mengendalikan keseimbangan.

9.Ketepatan (accuracy), adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran. Sasaran ini dapat merupakan suatu jarak atau mungkin suatu obyek langsung yang harus dikenai dengan salah satu bagian tubuh. Untuk itu, pesilat perlu melakukan pukulan-pululan ataupun tendangan-tendangan pada alat penyasar (bola yang digantung dengan ketinggian tertentu sebagai sasaran tendangan, atau menggunakan sansak untuk pukulan serta tendangan dan lain sebagainya).

10.Reaksi (reaction). Adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, syaraf atau perasaan lainnya, seperti dalam mengantisipasi datangnya bola yang harus ditangkap, menghadapi serangan lawan yang ditujukan pada pesilat (sabung). Dengan melakukan gerak pasangan ganda yang cepat, bertenaga dan diulang-ulang akan menghasilkan reaksi yang baik.

Baca Selengkapnya......